13:50 -
1 comment
1 comment
AKU DENGAN KISAHKU
(“Bahkan Aku Lupa Rasanya Diperhatikan”)
Matahari sudah terbenam ketika aku keluar rumah. Tepatnya jam 6.30
sore. Hampir setiap hari aku keluar malam dan pulang menjelang pagi.
Jujur saja, aku lebih senang berada diluar rumah daripada dirumah. Jika
bagi kebanyakan remaja sepertiku mengatakan rumah itu adalah tempat
paling nyaman, maka rumah adalah neraka bagiku. Betapa tidak, cacian,
hinaan, makian serta cemoohan itu adalah makanan sehari-hari yang harus
ku telan dengan sangat-sangat pahit. Bahkan aku lupa kapan terakhir
mereka memanggilku dengan nama asliku. Kata mereka, aku ini anak pembawa
sial dan akulah yang menyebabkan ibu meninggal. Padahal aku berani
bersumpah demi apapun kalau bukan aku yang menyebabkan ibu meninggal.
Apa mereka mendengarkanku? Tidak! Mereka tidak pernah mendengar
kenyataan dari mulutku.
Tujuanku malam ini ingin bertemu dengan
kenalan baruku. Ketika aku ingin menyebarang jalan, tanpa sengaja aku
menabrak seorang remaja, pakaiannya longgar, jilbab ungu dan gamis hitam
membuatnya terlihat sangat cantik, terlebih kulitnya putih bening. “
Maafkan saya,..” itu kalimat singkat yang
dia ucapkan sebelum dia
berlalu dihadapanku. Belum sempat kujawab dia sudah berada 5 meter jauh
dariku. Aku memandangnya hingga ia berbelok ke arah sebuah masjid.
Seketika aku teringat akan diriku sewaktu tiga tahun silam. Begitulah
cerminan diriku, dulu. Tubuh yang cukup ideal untuk remaja seusiaku aku
tutup rapi dengan pakaian-pakaian yang dijahit sendiri oleh ibuku.
Jilbab yang selalu menutup rambut lurusku. Namun, itu masa lalu bagiku.
Peristiwa yang tak akan pernah bisa aku lupakan dalam hidupkulah yang
membuatku berubah. Kini, aku tidak lagi mengenal apa itu jilbab apalagi
pakaian-pakaian yang menjuntai ke bawah itu. Lihat aku sekarang, rambut
lurus sebahu, baju tak berlengan dengan rok di atas lutut serta sepatu
tinggi menjadi andalanku. Jika dulu aku tahu siapa saja nama guru yang
mengajar di TPA dekat masjid, maka sekarang aku lebih menghafal
nama-nama bar yang ada di kota tempat tinggalku.
Tidak
usah aku ceritakan secara jelas tentang siapa aku yang sekarang.
Kematian ibu, kejahat kakak dan bapak tiriku serta kebejatan yang
dilakukan oleh abang tiriku yang membuat aku seperti sekarang ini.
Mereka itu licik, lebih licik dari apapun. Yang mereka harapkan cuma
harta ibu saja. Tidak lebih. Mungkin mereka telah merancang semuanya
menjadi semacam sandirwara yang akan siap mereka perankan dalam
kehidupan kami guna untuk menghancurkan keluarga kami. Ketika aku masih
duduk di bangku kelas 1 SMA, ayah meninggal karena serangan jantung dan
semua aset kekayaan ayah dilimpahkan kepada aku dan ibu. Setelah aku
lulus SMA, ada seorang duda yang memiliki 2 anak melamar ibu untuk
menjadi istrinya. Ibu sudah lebih kenal terlebih dahulu dengan duda itu
sampai akhirnya ibu menikah dengan duda itu tidak lama sebelum aku masuk
perguruan tinggi.
Ibu memutuskan agar ayah dan
saudara tiriku tinggal dirumah kami dan merekapun setuju. Tahun pertama
mereka berada bersama kami, mereka baik dan sangat memanjakanku.
Lagipula aku lebih kecil daripada kedua saudara tiriku itu. Di tahun
kedua, ayah tiriku terlibat kasus korupsi di tempat ia bekerja dan ia
pun dipecat dengan tidak hormat. Jadilah kami hidup hanya mengandalkan
harta dari peninggalan ayah kandungku. Jika dulu aku berangkat kuliah
menggunakan kendaraan masing-masing, maka sekarang aku harus rela
berbagi dengan dua suadara tiriku itu. Lambat laun, mereka tidak lagi
baik padaku sampai mereka berani memfitnahku.
Pernah suatu hari,
ketika aku pulang kuliah menjelang azan magrib dengan alasan yang sudah
aku utarakan pada ibuku sebelum aku berangkat. Sesampai dirumah aku
mengetuk pintu dan mengucapkan salam, lalu ibu membukakan pintu dan
langsung menamparku dengan sangat keras. Selama aku hidup, belum pernah
ibu memarahiku apalagi memukuliku. Aku terkejut, aku menangis. Ayah
tiri, kakak dan abang tiriku berdiri dibelakang ibu dan tersenyum sinis
terhadapku. Tanda bahwa mereka telah berhasil membuat ibu marah padaku.
Belum sempat aku bertanya kenapa ibu menamparku, ibu menarik jilbabku.
Aku menagis, aku menahan tangan ibu supaya rambutku tidak terlihat di
depan ayah dan abang tiriku. Aku semakin bingung, aku sempat melihat ibu
juga menangis. “ Percuma ibu mengajari kamu ilmu agama jika kelakuanmu
diluar sana hanya menjual diri..” Aku berhenti melawan. Kalimat yang
baru saja ibu lontarkan membuat dadaku sesak. Kakak tiriku menunjukkan
raut wajah menang. Dan aku baru sadar bahwa dialah yang memfitnahku pada
ibu. Sebelum aku masuk ke kamar, sempat aku keluarkan kalimat yang
membuat ibuku tidak kalah terkejut. “ Bu, selama ini aku cukup sabar bu,
mereka boleh mengataiku apa saja. Aku diam. Namun, aku tidak akan diam
jika mereka memfitnahku menjual diri. Asal ibu tau, mereka itu licik,
mereka itu jahat, aku tidak akan pernah memaafkan mereka.” Aku berlari
kekamarku tanpa peduli apa yang terjadi dibelakangku. Samar aku
mendengar ibu berteriak namaku “ Daniaaaaaaaa….”
Tanpa terasa aku
telah sampai di tempat tujuanku. Sebuah taman yang banyak di datangi
oleh muda mudi yang berpacaran. Aku menemukan sebuah bangku panjang yang
hanya dibuat khusus untuk dua orang duduk. Aku membuka tas dan
mengambil ponselku, aku membaca satu pesan singkat dari kenalan baruku
yang mengatakan ia akan datang jam 8 dengan alasan yang bisa kuterima.
Aku duduk menghadap ke arah jalan raya yang banyak dilalui oleh pejalan
kaki. Tanpa sadar seorang pengemis mendatangiku, “ Mbak, anak saya belum
makan dari tadi pagi mbak..” seorang ibu dengan pakaian kumuh
menjulurkan tangannya ke arahku. Aku tahu maksudnya dan langsung aku
keluarkan lembar lima ribuan untuk kuberikan kepadanya agar anaknya bisa
makan. Aku memperhatikan gerak gerik pengemis itu. Ia seorang ibu yang
rela menjadi pengemis hanya untuk membelikan anaknya sebungkus nasi,
tiba-tiba air mataku mengalir, aku teringat akan ibuku sendiri. Tahun
ketiga setelah ibu menikah dengan ayah tiriku, ibu lebih sering
memarahiku, ibu berubah terhadapku, ibu tidak peduli lagi denganku.
Bahkan aku lupa yang namanya diperhatikan. Ayah dan saudara tirikupun
semakin hari semakin bejat saja kelakuannya. Sampai suatu hari sebulan
sebelum ibu pergi untuk selama-lamanya, ayah dan kakak tiriku pulang ke
kampung halaman mereka dengan tujuan menjenguk kakak dari ayah tiriku
yang sakit keras. Tinggallah aku dan ibu serta abang tiriku dirumah
selama 3 hari. Dua malam abang tiriku pulang larut malam dengan membawa
perempuan dengan pakaian yang tidak layak disebut pakaian (dan sekarang
aku yang memakai pakaian seperti itu). Kemarahan ibu tidak ia hiraukan.
Malam ke tiga ia pulang. Ketika kami sama-sama di dapur sedang makan,
dia memangdangku cukup lama dari kepala sampai kakiku. Aku merasa risih
dengan sikapnya itu.
Ketika aku terbangun hendak shalat subuh,
tidak sehelai pakaianpun melekat di tubuhku. Disampingku ada seorang
laki-laki yang tak lain adalah abang tiriku sendiri. ketika aku hendak
berteriak, dia menutup mulutku dengan tangannya yang lumayan besar dan
mengancamku. “ Jangan coba-coba lapor pada siapapun, atau ibumu akan
kubunuh dihadapanmu.” Dia menamparku, aku terjatuh. Aku menangis dan dia
dengan begitu saja keluar dari kamarku. Tidak sanggup rasanya aku
bangkit untuk mengunci pintu kamarku, lagipula aku yakin ibu tidak akan
masuk kekamarku lagi.
Seiring berjalan waktu, aku merasakan
perbedaan dari tubuhku. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa di dalam
perutku sudah ada sebuah janin. aku tidak tahu apa yang harus aku
lakukan, semakin hari perutku semakin membesar. Tidak ada yang peduli
terhadapku. Sampai akhirnya aku menceritakan semua kejadian itu pada ibu
dan tanpa sengaja kakak tiriku mendengarkan semua pembicaraanku. Dia
muncul di antara aku dan ibu dan dengan gampangnya ia mengatakan bahwa
aku membohongi ibu. ibu lebih percaya akan omongan dia daripada
kejujuran yang aku utarakan. Ibu sembakin membenciku, setiaphari aku
dicaci dan dimaki. Termasuk oleh ibuku sendiri. rumah serasa neraka
bagiku.
Hingga akhirnya aku melepaskan jilbab yang sedari SMA
menemaniku. Aku mulai memakai pakaian yang terbuka. Tidak ada yang
peduli kepadaku. Aku membeli obat supaya kandunganku hancur dan
untungnya obat itu manjur. Tabunganku semakin menipis. Sejak aku tahu
aku hamil, aku tidak lagi kuliah sampai saat ini. Sejak saat itu aku
mulai sering keluar malam. Dan dengan mudahnya aku mendapatkan teman
yang ingin membantuku. Sampai suatu ketika aku pulang menjelang pagi,
suara tangisan terdengar sangat besar di rumahku, itu suara kakak
tiriku. Aku berlari dan membuka pintu dan kudapati ibuku tak benyawa
lagi. Ibu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dan seketika itu akulah
yang dijadikan sebagai penyebab ibu meninggal.
Jam menunjukkan
tepat di angka 8 ketika seorang laki-laki yang umurnya 20 tahun lebih
tua dariku berada tepat di sampingku. Dia menciumku dan aku membalas
ciumannya.
Saatnya aku bekerja……….



1 comments:
Agen Bola Online & Casino Online Terpercaya
1 USER ID UNTUK SEMUA PERMAINAN !!!
Casinobet77 Menyediakan Permainan Terbaru & Terbaik
Livecasino | Bolaonline | Sabungayam | PokerDomino | SpadeGaming | SlotGame | Tangkas | BatuGoncang | Jdb168 SlotGame | NumberGame Lottery
-----------------------------------------------------------------------
- Bonus Deposit MEMBER BARU Sportbook 100%
- Bonus Deposit 30% Khusus Permainan Sportbook
- Bonus Deposit 10% Setiap Hari Untuk Semua Game
- Bonus Deposit Setiap hari 5rb - 25rb
- Bonus Casino Rollingan 0.8% Setiap Hari Senin
- Bonus Rollingan Poker & domino 0,3%
- Bonus Cashback Game & Tangkas 5%
- Bonus Cashback Sportbook 5%
- Bonus Cashback Sabungayam 5%
- Bonus Referall 2% Semua Game
- Bonus Referall 1% dari member Togel
Contact Us Now :
Livechat Casinobet77
whatsapp : +85599495431
PIN BBM : D6235F1C
Wechat : casinobet77cs1
Line : casinobet77
skype : casinobet77
Link pendaftaran :lc.chat/now/8523001/
Post a Comment