09:44 -
No comments
No comments
GADIS HUJAN
Hujan sore ini begitu deras, aku
duduk santai diteras ditemani segelas teh hangat dan beberapa pisang goreng
yang masih panas. Kubiarkan panasnya pisang goreng itu menghangatkan bibirku
yang kedinginan ditambah dengan aliran teh hangat yang langsung meluncur dalam
lambungku, memberikan kehangatan tersendiri dalam perutku.
Kupandangi tetesan hujan yang
turun dengan derasnya. Ada keindahan tersendiri ketika kulihat tetesan itu
menghantam dedaunan dan kemudian memericik kesegala penjuru. Kadang kurasakan
percikan itu mengenai tubuhku. Pandanganku teralihkan pada jalan setapak di
depan rumahku, jalan itu mulai tergenang oleh air hujan yang mengguyur sejak
siang tadi.
... kadang aku menganggap bahwa tetesan hujan yang mengalir
ditubuhku menghapuskan seluruh masalah yang kualami
Pandanganku kembali teralihkan
ketika kulihat seorang gadis berjalan dibawa hujan, tanpa sebuah payung. Ia
terlihat bergembira, sambil sesekali ia mengusap wajahnya dengan kedua
tangannya. Aku teringat beberapa tahun yang lalu, ketika masih kanak-kanak, aku
sering bermain bersama teman-temanku dibawah hujan, bermain diantara lumpur
persawahan, meskipun pada akhirnya harus mendapatkan cubitan dari ibuku ketika
pulang bermain karena pakaianku sangat kotor. Sayang sekali... saat itu belum
ada iklan Rinso yang mengatakan bahwa “berani kotor itu baik” sehingga aku
tidak mempunyai dalih untuk membela diri.
Aku tersadar dari lamunanku, kulihat
gadis itu sudah semakin menjauh. Kuberanikan mengambil payung kemudian
mengejarnya. Suara hujan yang begitu deras nampaknya membuat gadis itu tidak
sadar ketika aku sudah berjalan dibelakangnya kemudian memayunginya. Ia berhenti
kemudian menoleh memandangku.
“Kenapa main hujan-hujanan? Entar
sakit loh” Ucapku memulai pembicaraan.
“Tidak kok, aku sudah terbiasa
seperti ini. Menurutku hujan itu indah” ucapnya menjawab pertanyaanku.
“Hujan itu juga romantis menurutku”
ucapku menambahkan. Aku akhirnya menutup payungku dan memutuskan untuk
hujan-hujanan. Gadis itu hanya tersenyum melihatku menutup payung.
“Kenapa kamu hujan-hujanan?” kini ia
balik bertanya.
“Untuk menghapus masalah...” aku
menghentikan kata-kataku. Ia menoleh sesaat, menunggu lanjutan dari kalimat
yang ingin kuucapkan
“... kadang aku menganggap bahwa
tetesan hujan yang mengalir ditubuhku menghapuskan seluruh masalah yang
kualami” aku melanjutkan kalimatku
“Betul sekali” ia tersenyum sambil
mengacungkan jempol pertanda setuju dengan ucapanku.
Kami terus berjalan dibawah hujan,
membiarkan tubuh kami sama-sama basah oleh derasnya tetasan hujan yang tentunya
dinikmati juga oleh tumbuhan yang merindukan air. Sayup-sayup suara katak
kudengar dikejauhan seakan saling memanggil satu sama lain.
Hujan mulai sedikit mereda ketika
gadis itu sampai pada akhir perjalanannya.
“Aku pamit dulu yah... makasih udah
ditemenin hujan-hujanan. Itu rumahku” ia menunjuk sebuah rumah yang berdiri
ditengah sawah. Tanpa menunggu jawabanku, ia sudah berberlari diantara pematang
sawah sambil sesekali berbalik dan melambai padaku. Aku tersenyum melihatnya
sambil sesekali kubalas lambaian tangannya. Setelah gadis itu hilang didepan
sebuah pintu, aku kemudian memutar arah, ingin kembali pada zona nyamanku
dimana teh hangat dan pisang goreng yang mungkin sudah tidak hangat lagi
menungguku untuk menyantapnya.
***
Malam harinya, aku agak flu... belum
lagi handphoneku rusak karena basah oleh hujan. Seharusnya aku menyediakan
kantong plastik sebelum hujan agar aku bisa menyimpan handphoneku sebelum
bermain hujan-hujanan.
Tak ada perkenalan.... tak ada
nama.... aku hanya ingat bahwa ini kisah tentang gadis hujan.
0 comments:
Post a Comment