Tuesday, 1 January 2013

09:44 - No comments

GADIS HUJAN



Hujan sore ini begitu deras, aku duduk santai diteras ditemani segelas teh hangat dan beberapa pisang goreng yang masih panas. Kubiarkan panasnya pisang goreng itu menghangatkan bibirku yang kedinginan ditambah dengan aliran teh hangat yang langsung meluncur dalam lambungku, memberikan kehangatan tersendiri dalam perutku.

Kupandangi tetesan hujan yang turun dengan derasnya. Ada keindahan tersendiri ketika kulihat tetesan itu menghantam dedaunan dan kemudian memericik kesegala penjuru. Kadang kurasakan percikan itu mengenai tubuhku. Pandanganku teralihkan pada jalan setapak di depan rumahku, jalan itu mulai tergenang oleh air hujan yang mengguyur sejak siang tadi.

... kadang aku menganggap bahwa tetesan hujan yang mengalir ditubuhku menghapuskan seluruh masalah yang kualami

Pandanganku kembali teralihkan ketika kulihat seorang gadis berjalan dibawa hujan, tanpa sebuah payung. Ia terlihat bergembira, sambil sesekali ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Aku teringat beberapa tahun yang lalu, ketika masih kanak-kanak, aku sering bermain bersama teman-temanku dibawah hujan, bermain diantara lumpur persawahan, meskipun pada akhirnya harus mendapatkan cubitan dari ibuku ketika pulang bermain karena pakaianku sangat kotor. Sayang sekali... saat itu belum ada iklan Rinso yang mengatakan bahwa “berani kotor itu baik” sehingga aku tidak mempunyai dalih untuk membela diri.

Aku tersadar dari lamunanku, kulihat gadis itu sudah semakin menjauh. Kuberanikan mengambil payung kemudian mengejarnya. Suara hujan yang begitu deras nampaknya membuat gadis itu tidak sadar ketika aku sudah berjalan dibelakangnya kemudian memayunginya. Ia berhenti kemudian menoleh memandangku.
“Kenapa main hujan-hujanan? Entar sakit loh” Ucapku memulai pembicaraan.
“Tidak kok, aku sudah terbiasa seperti ini. Menurutku hujan itu indah” ucapnya menjawab pertanyaanku.
“Hujan itu juga romantis menurutku” ucapku menambahkan. Aku akhirnya menutup payungku dan memutuskan untuk hujan-hujanan. Gadis itu hanya tersenyum melihatku menutup payung.
“Kenapa kamu hujan-hujanan?” kini ia balik bertanya.
“Untuk menghapus masalah...” aku menghentikan kata-kataku. Ia menoleh sesaat, menunggu lanjutan dari kalimat yang ingin kuucapkan
“... kadang aku menganggap bahwa tetesan hujan yang mengalir ditubuhku menghapuskan seluruh masalah yang kualami” aku melanjutkan kalimatku
“Betul sekali” ia tersenyum sambil mengacungkan jempol pertanda setuju dengan ucapanku.
Kami terus berjalan dibawah hujan, membiarkan tubuh kami sama-sama basah oleh derasnya tetasan hujan yang tentunya dinikmati juga oleh tumbuhan yang merindukan air. Sayup-sayup suara katak kudengar dikejauhan seakan saling memanggil satu sama lain.

Hujan mulai sedikit mereda ketika gadis itu sampai pada akhir perjalanannya.
“Aku pamit dulu yah... makasih udah ditemenin hujan-hujanan. Itu rumahku” ia menunjuk sebuah rumah yang berdiri ditengah sawah. Tanpa menunggu jawabanku, ia sudah berberlari diantara pematang sawah sambil sesekali berbalik dan melambai padaku. Aku tersenyum melihatnya sambil sesekali kubalas lambaian tangannya. Setelah gadis itu hilang didepan sebuah pintu, aku kemudian memutar arah, ingin kembali pada zona nyamanku dimana teh hangat dan pisang goreng yang mungkin sudah tidak hangat lagi menungguku untuk menyantapnya.

***

Malam harinya, aku agak flu... belum lagi handphoneku rusak karena basah oleh hujan. Seharusnya aku menyediakan kantong plastik sebelum hujan agar aku bisa menyimpan handphoneku sebelum bermain hujan-hujanan.

Tak ada perkenalan.... tak ada nama.... aku hanya ingat bahwa ini kisah tentang gadis hujan.

0 comments:

Post a Comment